PEMBUNUHAN ANAK, TREND ATAU BUKAN ?

Rabu, 05 Oktober 2011 - 21:17:37
Diposting oleh : AKP JONI CAHYONO
Kategori: Artikel anggota Ditpolair - Dibaca: 3581 kali
PEMBUNUHAN ANAK, TREND ATAU BUKAN ?

Dalam beberapa tahun terakhir di abad XXI ini sudah sekian banyak kasus bocah balita terbunuh ditangan orang-orang terdekatnya bahkan orangtunya sendiri, minimal tegal membuang bayinya ditempat sampah, dipinggir jalan atau dihalaman rumah tetangga. Hal ini terjadi dibeberapa daerah dibelahan bumi Indonesia. Apa yang terjadi sebenarnya di negeri ini ?

Tetangga Kurang Peduli
Penulis berpendapat dari hasil menonton dan mendengar melalui media cetak maupun media visual elektronik, bahwa ada ciri tertentu yang melekat pada kasus-kasus itu.
Pertama, korban tidak mendapat perhatian dan kasih sayang secara utuh dari orang tuanya. Bisa hal ini alamiah misalnya, orangtua korban sakit atau meninggal, tapi bisa juga karena perpecahan keluarga sehingga si anak di asuh satu orangtua atau malah dialihkan pengasuhannya kepada anggota keluarga lain.
Kedua, adanya rasa malu karena kelahiran seorang anak hasil dari buah hubungan gelap atau hubungan tanpa status dan atau hamil diluar nikah serta anak lahir cacat. Sehingga seorang ibu tega menghabisi anak kandung darah dagingnya sendiri atau bisa juga dibuang di tempat sampah atau diletakan di halaman rumah tetangga.
Ciri ketiga, terjadinya dilingkungan yang relatif terisolasi sehingga kontrol sosial dari masyarakat sekitar agak kurang.
Ciri keempat, dari sisi pelakunya, tindak kekerasan mereka merupakan kumpulan/ penumpukan (akumulasi) dari tindakan-tindakan sebelumnya yang sudah mereka lakukan sebelumnya. Jadi tidak muncul begitu saja.
Sedangkan ciri yang kelima, si pelaku memang punya gangguan emosional atau gangguan jiwa.

Jadi menurut penulis dengan kata lain, hal ini karena adanya pergeseran nilai dalam masyarakat yang mendukung terjadinya peristiwa-peristiwa tragis itu. Masyarakat kita ini makin modern, segalanya berubah. Situasi ekonomi yang ada saat ini membuat semakin jarangnya ada keluarga luas (keluarga besar) dalam satu rumah, yaitu keluarga dengan anggota yang bukan ayah-ibu dan anak saja, tapi juga melibatkan kerabat lain seperti kakek-nenek maupun paman-biibi.
Yang ada, makin banyak keluarga inti dalam satu rumah, orangtua dan anak-anak saja. Padahal makin hari makin banyak suami istri yang sama-sama kerja, akibatnya anak-anak tidak dibesarkan dengan support penuh dari orangtuanya. Mereka dibiarkan tumbuh sendiri apa adanya. Apa yang mereka lakukan dan alami pun semakin jauh dari pantauan orangtuanya.

Namun sebenarnya bisa saja tidak demikian khususnya bagi suami istri yang bekerja, karena hal ini dialami penulis. Tergantung bagaimana kita  kehidupan ini, tapi yang jelas harus ada pengorbanan ekstra sepanjang tidak merugikan pihak lain serta kepada siapa anak kita percayakan untuk mengasuhnya juga mengetahui karakter sang pengasuh.

Menurut penulis, berkurangnya kontrol sosial tetangga pun merupakan akibat adanya pergeseran nilai dalam masyarakat. Dulu nilai sosial masyarakat masih memungkinkan tetangga saling turut campur dalam urusan masing-masing, tapi karena sekarang karena nilai individualis sudah makin kuat, jarang ada orangtua apalagi tetangga mencampuri urusan rumah tangga seseorang. ”Ah itu kan urusan keluarga mereka” itu yang selalu diucapkan dan kita dengar.
Jadi penulis menganggap tidak aneh jika ada tetangga pelaku yang tidak melaporkan ke Polisi, kendati mereka sering mendengar teriakan tangis kesakitan korban yang disiksa. Setelah anak tewas barulah mereka biasanya mau bercerita.
Lalu apa yang bisa dilakukan ?  peran tokoh masyarakat dalam memantau keadaan warganya bisa lebih ditingkatkan, khususnya ditingkat yang paling bawah, setidaknya ditingkat RT atau kelurahan.
Selain itu penulis juga terfokus pada minimnya fasilitas yang menunjang pelaksanaan UU kesejahteraan anak-anak meskipun sudah ada UU perlindungan anak, lembaga-lembaga yang berfungsi sebagai pengganti orangtua bagi anak-anak yang terlantar pengasuhannya, masih sangat terbatas.


Bisa Menimpa Siapa Saja
Sebagai pandangan terakhir, penulis menganggap kasus-kasus pembunuhan anak, membuang anak belakangan ini masih bisa dipilah-pilah. Tidak semuanya tergolong child abuse. Artinya tidak semua bias dianggap sebagai penyiksaan anak demi kepentingan sang penyiksa. Kasus mbah jiwo misalnya, itu karena mbah jiwo melihat korbannya sebagai kambing. Karena kebetulan korbannya masih anak-anak.

Ada juga dari kasus yang lainnya, pelaku bertindak kejam karena ketidaktahuan atau keputusasaan. Bisa juga karena tekanan ”ekonomi” atau tekanan pihak yang lebih ”berwenang”  adalah orang-orang yang punya kekuasaan resmi maupun tidak resmi pada diri si pelaku.

Seperti tersangka pelaku pembunuhan Kimpul yang pernah penulis dengar, misalnya, diminta ayahnya untuk mengasuh Kimpul. Ia mau menerima karena tidak berani melawan orangtua. Padahal dia mungkin sudah cukup direpotkan oleh anaknya sendiri.  Karena tertekan, ia pun melampiaskan kekesalannya pada pihak yang lebih lemah dari dirinya. Siapa yang paling Pas ? Ya si Kimpul itu, karena kebetulan korban tewas, lagi-lagi terjadilah pembunuhan anak.

Kemudian masih hangat dan terngiang-ngiang ditelinga kita bayi berumur 6 bulan  bernama Kolas tewas oleh tangan ibu kandungnya sendiri bernama Sembat, dengan cara disiram menggunakan cairan asam keras untuk pengolahan karet lalu dikubur ditengah hutan karet di Kabupaten Landak Kalbar. Akibat sang ibu Sembat yang baru pulang dari Malaysia sebagai TKW mengalami stress, tak bersuami dan melahirkan sendiri anaknya.

Hal seperti itu, tidak selalu menimpa anak-anak, tapi bisa juga oleh majikan kepada pembantu rumah tangga atau oleh guru kepada murid. Pokoknya pelaku cenderung melampiaskan kekeksalannya pada pihak yang lebih lemah kedudukannya.

Karena itu dapat disimpulkan, pembunuhan terhadap anak yang sedang ramai saat ini belum bisa dianggap trend.  Kebetulan saja korbannya semua anak-anak. Padahal kasus serupa juga bisa menimpa korban yang bukan anak-anak.

Penulis sendiri lebih cemas melihat makin banyaknya penyiksaan anak  yang tidak menewaskan korbannya. Karena korbannya tidak mati, hal ini menjadikan masyarakat justru kurang memperhatikan,  padahal bahayanya justru lebih besar.

Seperti apa bentuknya ? Panjang lebar seperti contoh diatas, lebih banyak. Ada anak-anak yang dipaksa jadi penyanyi dengan gaya dewasa. Lalu ada anak-anak TK sudah diajari bahasa inggris, meski dirumah si anak tidak ada yang bisa diajak berbahasa inggris. Juga anak yang dipaksa mengemis, atau anak dipaksa jadi dokter karena ayahnya dokter, padahal bakatnya jadi pelukis. Perlakuan seperti itu, merampas hak-hak anak menikmati dunianya. Anak akhirnya hanya dijadikan alat untuk menyenangkan dan memuaskan orangtua. Baik untuk kepentingan ekonomi maupun status. Sekali lagi, ini lebih mencemaskan karena menyangkut masa depan mereka. Peringatan ini agaknya patut diperhatikan.

TIPS
Mencegah terjadinya penyiksaan dan kekerasan yang akhirnya mengakibatkan terbunuhnya anak bagi suami istri yang bekerja :

1.    Buat komitmen pra nikah dan pasca akad nikah untuk saling menghargai dan menghormati.
2.    Rencanakan dengan matang untuk membentuk rumah tangga yang sakinah.
3.    Sepakati pada saat punya anak nanti, rencanakan bagaimana cara mengasuh dan membesarkan anak karena sebagai orangtua sama-sama bekerja agar kelak tidak saling menyalahkan yang berakibat akan melampiaskan kekesalan kepada anak.
4.    Jangan membawa permasalahan dan kekesalan ditempat pekerjaan ke rumah.
5.    Biasakan tenang dan sabar saat menghadapi kerewelan anak dan dengarkan apa kemauannya, bujuk dan beri pengertian serta alasan dengan bahasa anak.
6.    Sempatkan dan perbanyak waktu selalu dekat dengan anak agar kita memahami karakter anak, sehingga sebagai orang tua tidak cepat emosi.
7.    Jangan memaksakan kehendak kita sebagai orangtua kepada anak, cukup diarahkan dan diawasi secara lebih dekat lagi agar perkembangan dan pertumbuhan anak dapat secara wajar, Tuhan telah menciptakan mahluknya sesuai dengan takdir-Nya dan itu wajib kita percayai.
8.    Kelola perekonomian rumah tangga dengan baik....>>>>>>>JECY


Berita Terkait:


    Komentar :
    Anda bisa memberikan komentar dengan akun facebook disini:
    nn, banjarmasin
    06 Oktober 2011 - 18:23:18
    saya setuju dengan tulisan bapak diatas namun ada beberapa hal yang harus kita ingat bahwa berkomitmen memang mudah karena hanya di bibir saja. teori pada umum nya tidak sesuai yang ada di lapangan. kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi pada rumah tangga kita nanti nya, sekuat apaun, semaksimal apapun kita menjaga keutuhan rumahtangga jika takdir berkata lain kita sebagai mausia hanya bisa berpasrah diri. semoga anak anak yang kita cintai selalu mendapatkan kebahagiaan dan bimbingan dari orang tua dan orang - orang disekitar kita
    amin

    BRIPKA ACHMAD JARKASI, SH, BANJARMASIN
    03 November 2011 - 09:28:00
    Mantap.....harta, anak, pangkat jabatan adalah Titipan ALLAH yang harus dipertanggung jawabkan.....Ilmu adalah Kehormatan.



    Silakan LOGIN untuk berkomentar menggunakan account anda di Polair Kalsel:
      akun polair LOGIN
       
    Email :
    Password :
          login
    Belum memiliki Akun Polair? Registrasi
    Berita Terpopuler


    UNDANG-UNDANG NO 17 TAHUN 2006 TENTANG KEPABEANAN (7835)

    Read More ...

    Peranan Isteri dibalik kesusesan karir suami anggota Polair (4174)

    Read More ...

    UU Pelayaran Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran (3671)

    Read More ...

    PEMBUNUHAN ANAK, TREND ATAU BUKAN ? (3581)

    Read More ...

    Dirpolair Pimpin Upacara Penutupan Bintra (2502)

    Read More ...

                   

                              

    Mini Chat

                              

                              

                           

    Web Link

                           

           

    Pengaduan Masyarakat

    Kami SIAP Melayani Anda!
    Identitas Anda akan kami jaga dan kami lindungi secara hukum ...

    klik di sini untuk mengajukan aduan